Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sabtu Malam, jalanan lengang, lewat pangkalan segalanya masih berjalan lancar. Dinda tertidur lelap disamping, acara seharian penuh membuatnya tertidur sangat nyenyak. Tinggal sedikit lagi, tinggal sedikit lagi, lewat jalanan menyebalkan ini, kemudian pintu tol veteran dan rumah.
Tiba-tiba, bruk bruk, Honda Stream gress lewat disamping dan entah kenapa aku tetap yakin untuk terus mengambil belok kiri dan bruk bruk akhirnya dengan sukses si Starlet menabrak bagian belakang si Stream. Pengendara Stream kemudian berhenti beberapa meter kedepan: marah besar.
“Kenapa Mas?” Dindaku terbangun
“…mobilnya nabrak nda…”
Si pengemudi kemudian turun, dengan celana jeans dan kaus timnas inggris dia segera mengecek pelk, panel bagian samping dan bemper belakangnya. Baret, lecet dia sudah memastikan bahwa mobilnya tertabrak. Dengan tatapan marah dia menuju ke arahku.
Di mobil, dengan perasaan berdebar aku bergumam “Sial, sial, sial kenapa harus hari ini”. Sampai kulihat ternyata sosok itu tidak asing lagi.
“Mas Novri, Mas Novri ya, Mas!” seruku bersemangat
“Oalah Anjar, Anjar, kenapa harus kamu sih”
Mas Novri, seniorku di kampus yang terakhir mentraktirku -mewah di Marche Gran Melia. Mungkin juga tidak habis pikir, kenapa mobil gressnya harus disruduk si Anjar. Antara marah, kesal, gumun campur-campur perasaan saat kejadian semalam.
Terpaksa, silaturahmi dadakan dilakukan di tanah kusir. Sangat berkesan karena baru pertama kali kami bertemu lengkap dengan pasangan masing-masing. Dalam suatu kesempatan yang sangat langka dan ajaib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar